Laman

Cari Blog Ini

Kamis, 23 Juni 2011

BUDAYA MEMBACA DI INDONESIA TERHALANG OLEH KECANGGIHAN HANDPHONE

oleh : Octaviani Nur

Di era globalisasi saat ini dunia semakin terbuka dengan kemajuan teknologi yang semakin lama semakin canggih. Salah satu kecanggihan teknologi yang sedang merajalela di Indonesia adalah handphone (telepon seluler). Ya, handphone adalah sebuah alat komunikasi tanpa kabel yang dapat digunakan dan dibawa kemana saja. Selain untuk alat berkomunikasi handphone juga mempunyai banyak fiture-fiture canggih yang terdapat di dalamnya, contohnya seperti SMS (short message service), kamera, radio, mp3, browsing dan lain-lain.
Hadirnya kemajuan teknologi berkomunikasi seperti handphone yang sangat pesat sekali tidak dapat kita hindari dan perkembangan jenis handphone yang semakin beranekaragam membuat masyarakat untuk mengikuti perkembangan teknologi yang semakin meluas.
Handphone adalah alat komunikasi paling populer di Indonesia karena bukan hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki handphone tetapi setiap kalangan masyarakat mulai dari anak-anak, remaja, sampai orang tua. Masing-masing kalangan tentu berbeda-beda dalam menggunakan kecanggihan handphone misalnya dari anak-anak sampai remaja menggunakan handphone hanya untuk SMS, telepon, browsing dan lain-lain yang sifatnya hanya sebagai hiburan semata, berbeda dengan para orang tua yang menggunakan kecanggihan handphone untuk bisnis dan lain-lain.
Kecanggihan handphone memang tidak dapat diragukan lagi akan tetapi di samping keuntungan dari penggunaan handphone, terdapat juga kerugian dari penggunaan handphone yaitu komunikasi dengan menggunakan handphone secara tidak langsung telah menurunkan minat baca masyarakat khususnya para remaja. Menurut data majalah Komputer Aktif (no. 50/26 Maret 2003) berdasarkan survei Siemens Mobile Lifestyle III menyebutkan bahwa 60 persen remaja usia 15-19 tahun lebih senang mengirim dan membaca SMS daripada membaca buku, majalah atau koran. Dalam hal ini komunikasi melalui handphone seperti pengiriman SMS ternyata berdampak buruk untuk menurunkan minat baca masyarakat. Hal ini dapat dikatakan bahwa budaya baca sudah terancam oleh budaya mengirim SMS. SMS dalam hal ini lebih berfungsi sebagai hiburan saja. Bahkan menurut data Kompas (4 April 2003) yang melakukan street polling yang dilakukan pada 100 remaja SMU di Jakarta, Bogor, Bandung, dan Semarang menunjukkan bahwa 51 persen mereka mengirim SMS 11-20 kali, 35 persen 2-10 kali dan 14 persen lebih dari 20 kali sehari. Meskipun data ini tidak dapat digunakan untuk penelitian, tetapi fenomena itu jelas menjadi salah satu potret dampak perkembangan komunikasi melalui handphone. Bahkan, sebesar 73 persen mereka mengeluarkan biaya untuk membeli voucher perbulannya seitar 100-200 ribu, 9 persen antara 201-300 ribu dan 8 persen lebih dari 300 ribu perbulan. Artinya bahwa di samping menurunkan minat baca, handphone juga mengarahkan masyarakat untuk hidup konsumtif. Bahkan menurut data dari penelitian “Survei Siemens Mobile Phone” 58 persen orang Indonesia lebih memilih mengirim SMS daripada membaca buku.
Dari hal-hal diatas, terdapat banyak pelajaran yang dapat kita ambil diantaranya kita dapat mengetahui bahwa barang yang selalu kita bawa kemana-mana yaitu handphone mempunyai banyak sekali kerugian, salah satunya yaitu menurunkan minat baca masyarakat indonesia yang lebih tertarik dengan SMS-an daripada harus membaca buku, koran, artikel dan lain-lain. Oleh karena itu, kali ini kita telah mengetahui kerugian dari handphone maka kita sebagai masyarakat Indonesia yang peduli terhadap negara sendiri harus memperhatikan dan mencari solusi agar minat membaca pada masyarakat Indonesia semakin timbul dan masyarakat di Indonesia juga akan semakin cerdas serta tidak ketinggalan zaman dengan negara lain yang lebih kecil dari Indonesia.
Referensi :
1. Nurudin, Sistem Komunikasi Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers, 2005.
2. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0405/05/telkom/1002910.htm

2 komentar:

  1. Halo Ovie,

    Penulisan artikelnya bagus sekali. Tidak hanya sekedar berargumen, tetapi juga menampilkan data survei dari berbagai sumber. Memang minat baca di Indonesia kalah dengan minat nonton, apalagi sekarang ada aktivitas lain yang lebih ringan dan menarik untuk remaja yaitu budaya SMS (dan Facebook). Teruskan menulis ya, senang sekali membaca tulisanmu yang obyektif dan kritis.

    Salam saya,
    Elivie
    polandesia.wordpress.com

    BalasHapus
  2. terima kasih Elivie salam kenal juga :D

    BalasHapus