Laman

Cari Blog Ini

Rabu, 23 November 2011

MANAJEMEN KOMITMEN


  a.    Pengertian komitmen
Irving dan Taylor (2004) mendefenisikan komitmen sebagai kekuatan yang mengikat seseorang pada suatu tindakan yang memiliki relevansi dengan satu atau lebih sasaran.
Robbins (2001) menyebutkan komitmen adalah tingkatan di mana seseorang mengidentifikasikan diri dengan organisasi dan tujuan-tujuannya dan berkeinginan untuk memelihara keanggotaannya dalam organisasi.
Jadi, komitmen merupakan kesediaan dan kemauan individu yang tulus untuk ewujudkan visi, misi, dan tujuan suatu lembaga.

b.    Komitmen dalam profesi mengajar
Guru sangat berpern penting di dalam suatu lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan dari lembaga tersebut. Profesi guru sebagai pengajar sangat diharapkan dapat membantu para peserta didik untuk lebih mengetahui dan lebih pintar dari sebelumnya. Oleh karena itu sangat dibutuhkannya komitmen guru dalam profesi mengajarnya. Komitmen dalam profesi mengajar guru adalah kebutuhan timbal balik antara organisasi dan anggota organisasi, dasar pemeliharaan komitmen guru adalah kecintaan dan tanggungjawab terhadap “clients” (para siswa).

c.    Unsur-unsur komitmen organisasi
Komitmen organisasi ditandai oleh 3 unsur, yaitu:
1)    Keyakinan yang kuat terhadap penerimaan nilai dan tujuan organisasi
2)    Keinginan melakukan tindakan atas nama organisasi
3)    Keinginan yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi.
Selain unsur-unsur komitmen organisasi diatas, terdapat 3 unsur umum yang ada :
1)    Ciri-ciri pribadi (usia, masa kerja, jenis kelamin, motivasi prestasi, perasaan menguasai pekerjaan, kebutuhan tingkat tinggi, menyenangi pekerjaan, dan kepuasan kerja).
2)    Kejelasan peranan
3)    Budaya organisasi


 
d.    Pendekatan terhadap komitmen
Pendekatan organisasi terhadap komitmen yaitu terdiri dari:
1)    Komitmen merupakan sebagai investasi energi individu terhadap organisasi
2)    Komitmen merupakan sebagai hubungan saling memerlukan antara individu dan organisasi
3)    Komitmen merupakan sebagai pemeliharaan kesetiaan.


Nama              : Octaviani Nur
NIM                 : 1001629
PERILAKU ORGANISASI
ADMINISTRASI PENDIDIKAN
UPI

Senin, 21 November 2011

ORGANISASI SEBAGAI SISTEM SOSIAL


NAMA : OCTAVIANI NUR
NIM     : 1001629
PERILAKU ORGANISASI
ADMINISTRASI PENDIDIKAN 2011
BAB III
ORGANISASI SEBAGAI SISTEM SOSIAL
A.    Organisasi dipandang sebagai perwujudan tingkah laku orang-orang yang mengakomodasikan interaksi berstruktur.

Organisasi sebagai sistem sosial terbagi menjadi dua, yaitu sistem tertutup (closed system) merupakan organisasi yang dalam keadaan tertutup artinya organisasi tidak menerima masukan dari luar lingkungan, sedangkan sistem terbuka (open system) merupakan organisasi yang menerima pengaruh dari lingkungan luar seperti nilai-nilai, sikap-sikap, teknologi dan lain-lain. Organisasi merupakan sekumpulan orang-orang/individu-individu yang berkumpul membentuk sebuah organisasi dan mempunyai tujuan yang sama. Di dalam organisasi ini perilaku tiap-tiap individu akan terlihat jelas ketika mereka diberi tanggungjawab atas pekerjaan masing-masing, dan bagaimana individu tersebut saling bekerjasama dan berinteraksi untuk mencapai tujuan dari organisasi tersebut.

B.    Model Getzels untuk memberi gambaran tentang organisasi sebagai proses interaksi sosial.
Model Getzels ini sangat dikenal sebagai teori sistem sosial. Teori ini menjelaskan tentang bagaimana sebuah organisasi menanggapi berbagai variabel stimulus baik dari lingkungan formal maupun informal yang berada di organisasi tersebut serta bagaimana pula organisasi tersebut berinteraksi di lingkungan luar. Sebagai contoh dari sistem sosial formal yaitu ruang kelas sebuah sekolah merupakan subsistem dari sistem sosial sekolah yang didalamnya terdapat interaksi antara pendidik dan peserta didik, sedangkan untuk contoh didalam lingkungan informal terdapat pada struktur keluarga dirumah.



SUMBER :
1.    Thoha, Miftah. 2005. Perilaku Organisasi. Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA
2.    Kusdi. 2009. Teori Organisasi dan Administrasi. Jakarta: Salemba Humanika

PERILAKU INDIVIDU DALAM ORGANISASI


Nama : Octaviani Nur
NIM : 1001629
PERILAKU ORGANISASI
Pertemuan IV
PERILAKU INDIVIDU DALAM ORGANISASI
A.    Perilaku Individu dan Perbedaan Individual
Perilaku individu yaitu sebuah fungsi interaksi antara person atau individu dengan lingkungannya. Setiap individu mempunyai banyak perbedaan didalam dirinya masing-masing, berdasarkan dari pemahaman sifat-sifatnya perilaku individu dapat dibagi menjadi 6, yaitu;
1)    Manusia berbeda perilakunya, karena kemampuannya tidak sama;
2)    Manusia mempunyai kebutuhan yang berbeda;
3)    Orang berpikir tentang masa depan, dan membuat pilihan tentang bagaimana bertindak;
4)    Seseorang memahami lingkungannya dan hubungannya dengan pengalaman masa lalu dan kebutuhannya;
5)    Seseorang itu mempunyai reaksi-reaksi senang atau tidak senang(affective);
6)    Banyak faktor yang memengaruhi sikap dan perilaku seseorang.

B.    Karakteristik Organisasi dan Pengaruhnya Terhadap Individu

Ada beberapa karakteristik individu ketika ia akan memasuki lingkungan baru atau sebuah organisasi, diantaranya; kemampuan, kepercayaan pribadi, pengharapan, kebutuhan, pengalaman, dll. Organisasi pula merupakan suatu lingkungan bagi individu yang mempunyai karakteristik pula seperti; hierarki, pekerjaan-pekerjaan, tugas-tugas, wewenang, tanggungjawab, sistem penggajian(reward), sistem pengendalian(control), dll. Dari kedua karakteristik antara individu dan organisasi jika disatukan dan berinteraksi akan membentuk perilaku individu dalam organisasi.
C.   Pendekatan-pendekatan untuk memahami perilaku individu
Para ahli ilmu perilaku mengembangkan beberapa pendekatan untuk memahami perilaku manusia yang berinteraksi dengan lingkungannya, yaitu;
a)    Pendekatan Kognitif
Pendekatan ini meliputi kegiatan-kegiatan mental yang sadar, seperti; berpikir, mengetahui, memahami, dan kegiatan kosepsi mental seperti; sikap, kepercayaan, dan pengaharapan yang semuanyamerupakan faktor yang menentukan perilaku.
b)    Pendekatan penguatan(reinforcement)
Pendekatan ini menekankan pada peranan lingkungan dalam perilaku individu. Dalam hal ini lingkungan dipandang sebagai sumber stimulus yang dapat menghasilkan dan memperkuat respon-respon perilaku.
c)    Pendekatan psikoanalitis
Pendekatan ini menekankan peranan dari sistem personalitas di dalam menentukan sebuah perilaku. Lingkungan dipertimbangkan sebagai Ego yang berinteraksi untuk memuaskan keinginan-keinginan Id.

D.   Presepsi dan Komunikasi
1)    Persepsi
Menurut Stephen. P. Robbins (2008: 175) Persepsi(preseption) adalah proses dimana individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris merekan guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Jadi persepsi merupakan sebuah proses saat individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Faktor-faktor yang memengaruhi pengembangan persepsi seseorang menurut Miftah Thoha (2005:147) diantara lain:
a)    Psikologi
b)    Famili
c)    Kebudayaan
Adapun faktor-faktor dari luar yang terdiri dari pengaruh-pengaruh dari lingkungan luar antara lain: intensitas, ukuran, keberlawanan, pengulangan, gerakan, dan hal-hal yang baru berikut ketidakasingan. Kemudian faktor-faktor dari dalamnya antara lain: proses belajar (learning), motivasi, dan kepribadiannya.
Informasi berasal dari situasi yang diketahui oleh seseorang, maka informasi tersebut akan memengaruhi cara seseorang mengorganisasikan persepsinya. Pengorganisasian persepsi meliputi: keamanan dan ketidaksamaan, kedekatan dalam ruang, kedekatan dalam waktu.


a)    Persepsi Sosial
Persepsi sosial adalah berhubungan secara langsung dengan bagaimana seseorang individu melihat dan memahami oranglain.
b)    Persepsi Selektif
persepsi selektif adalah menginterpretasikan secara selektif apa yang dilihat seseorang berdasarkan minat, latar belakang, pengalaman, dan sikap seseorang.
c)    Efek Halo
Efek halo adalah membuat sebuah gambaran umum tentang seorang individu berdasarkan sebuah karakteristik. Ketika membuat sebuah kesan umum tentang seorang individu berdasarkan sebuah karakteristik, seperti kepandaian, keramahan, atau penampilan, efek halo sedang bekerja. Kenyataan akan efek halo diperkuat dalam sebuah penelitian, yaitu saat para pelaku diberi daftar sifat seperti pandai, mahir, praktis, rajin, tekun, dan ramah, kemudian diminta untuk mengevaluasi individu dengan sifat-sifat tersebut diberlakukan. Ketika sifat-sifat itu digunakan, individu tersebut dinilai bijaksana, humoris, populer, dan imajinatif. Ketika daftar yang sama dimodifikasi diperoleh serangkaian persepsi yang sama sekali berbeda.
d)    Jenis-jenis Persepsi
Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh oleh indera menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa jenis:
·         Persepsi visual
Persepsi visual didapatkan dari indera penglihatan. Persepsi ini adalah persepsi yang paling awal berkembang pada bayi, dan memengaruhi bayi dan balita untuk memahami dunianya. Persepsi visual merupakan topik utama dari bahasan persepsi secara umum, sekaligus persepsi yang biasanya paling sering dibicarakan dalam konteks sehari-hari.
·         Persepsi auditori
Persepsi auditori didapatkan dari indera pendengaran yaitu telinga.
·         Persepsi perabaan
Persepsi pengerabaan didapatkan dari indera taktil yaitu kulit.
·         Persepsi penciuman
Persepsi penciuman atau olfaktori didapatkan dari indera penciuman yaitu hidung.
·         Persepsi pengecapan
Persepsi pengecapan atau rasa didapatkan dari indera pengecapan yaitu lidah.
2)    Komunikasi
Miftah Thoha (2005: 167) mengatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian dan penerimaan berita atau informasi dari seseorang ke orang lain.
Ada tiga aspek penting dalam komunikasi yaitu, informasi, proses komunikasi dalam suatu organisasi, dan komunikasi antarorang.
Kemudian ada pula komunikasi organisasi adalah suatu komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi tertentu. Cirinya yaitu, berstruktur atau hierarki dalam arti vertikal dan horizontal, dan sebagai akibatnya dapat pula bersrtuktur keluar organisasi.
Selanjutnya komunikasi formal dan informal. Komunikasi formal mengikuti jalur hubungan formal yang tergambar dalam susunan atau struktur organisasi. Sedangkan komunikasi informal arus informasinya sesuai dengan kepentingan dan kehendak pribadi yang ada dalam organisasi tersebut.
Daftar Pustaka:
2.    Thoha, Miftah. 2005. Perilaku Organisasi. Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA
3.    P. Robbins, Stephen. 2006. Perilaku Organisasi. Jakarta: PT. INDEKS KELOMPOK